BAB 1
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Pada
era global seperti sekarang ini, teknologi informasi sangat diperlukan dalam
penunjang
Berbagai macam bidang dalam sebuah Negara. Tidak dipungkiri
lagi, teknologi informasi sekarang sudah merata dalam bidang kebudayaan setiap
bangsa dan Negara.
Teknologi informasi sendiri memiliki keuntungan dalam bidang kebudayaan setiap daerah yang dimiliki oleh suatu bangsa, demi melestarikan dan membuat budaya tersebut tetap hidup di jaman era globalisasi seperti saat ini.
Teknologi informasi sendiri memiliki keuntungan dalam bidang kebudayaan setiap daerah yang dimiliki oleh suatu bangsa, demi melestarikan dan membuat budaya tersebut tetap hidup di jaman era globalisasi seperti saat ini.
Sehingga tidak perlu ditakutkan lagi akan kehilangan budaya
yang sudah turun temurun dari nenek moyang sampai saat ini. Di era globalisasi
seperti saat ini, budaya westeren ( kebarat-barat`an) sudah merasuki setiap
sendi-sendi Negara. Ini terjadi karena pada era globalisasi seperti saat ini
setiap Negara lebih terbuka antar satu dan yang lainnya berbagi
informasi, budaya, dan kebiasaan tentunya dari yang positif hingga negative.
Kemajuan teknologi informasi saat ini sangat diperlukan
untuk bidang kebudayaan, kenapa? Karena pada salah satu fitur teknologi
informasi adalah intinya, kita sebagai user dari teknologi informasi itu
sendiri bisa berbagi baik berbagi dalam Negara sendiri maupun Negara luar.
Dengan adanya ini semua, budaya yang ada pada setiap daerah bangsa dan Negara
tetap eksis ( terkenal ) dan tidak adanya penyelewengan Negara lain yang
mengaku-ngaku suatu budaya Negara lain sebagai budaya negaranya sendiri sejak
nenek moyang jaman dahulu.
Indonesia adalah Negara yang luas. Terbentang dari sabang
sampai merauke.
Tidak di ragukan lagi Indonesia sebagai Negara yang kaya akan budaya memiliki daerah, agama,
Suku bangsa yang berbeda, dan tentunya Indonesia memiliki budaya yang memiliki ciri khas setiap daerahnya. Salah satunya Budaya Daerah Suku Makassar.
Tidak di ragukan lagi Indonesia sebagai Negara yang kaya akan budaya memiliki daerah, agama,
Suku bangsa yang berbeda, dan tentunya Indonesia memiliki budaya yang memiliki ciri khas setiap daerahnya. Salah satunya Budaya Daerah Suku Makassar.
2. Rumusan
Masalah
1.
Jelaskan
latar belakang dari kearifan lokal suku Bugis Makassar.?
2.
Jelaskan
Norma Hukum yang ada dalam suku Bugis Makassar.?
3.
Sebutkan
Sistem kepercayaan dalam suku Bugis Makassar.?
4.
Sebutkan
Sistem Kekerabatan yang ada pada suku Bugis Makassar.?
3. Tujuan
1.
Menambah wawasan dan pengetahuan
tentang sistem sosial budaya bugis Makassar.
2.
Memenuhi Tugas Kelompok Mata Kuliah
Antropologi
BAB
II
PEMBAHASAN
1. Latar
Belakang kearifan lokal suku Bugis Makassar (Siri na Pacca)
Dalam budaya
Sulawesi Selatan (Bugis, Makassar, Mandar dan Tana Toraja) ada sebuah istilah
atau semacam jargon yang mencerminkan identititas serta watak orang Sulawesi
Selatan, yaitu Siri’ Na Pacce. Secara lafdzhiyah Siri’
berarti : Rasa Malu (harga diri), sedangkan Pacce atau dalam
bahasa Bugis disebu Pesse yang berarti : Pedih/Pedas (Keras,
Kokoh pendirian). Jadi Pacce berarti semacam kecerdasan emosional untuk turut
merasakan kepedihan atau kesusahan individu lain dalam komunitas (solidaritas
dan empati).
A.
Pengertian Siri na Pacce
Laica
Marzuki (1995) pernah menyebut dalam disertasinya bahwa pacce sebagai
prinsip solidaritas dari individu Bugis Makassar dan menunjuk prinsip getteng,
lempu, acca, warani (tegas, lurus, pintar, berani) sebagai empat ciri utama
yang menentukan ada tidaknya Siri’.
Siri’ yang
merupakan konsep kesadaran hukum dan falsafah masyarakat Bugis-Makassar adalah
sesuatu yang dianggap sakral . Siri’
na Pacce (Bahasa Makassar) atau Siri’ na Pesse’ (Bahasa
Bugis) adalah dua kata yang tidak dapat dipisahkan dari karakter orang
Bugis-Makassar dalam mengarungi kehidupan di dunia ini. Begitu sakralnya kata
itu, sehingga apabila seseorang kehilangan Siri’nya atau De’ni gaga Siri’na,
maka tak ada lagi artinya dia menempuh kehidupan sebagai manusia. Bahkan orang
Bugis-Makassar berpendapat kalau mereka itu sirupai olo’ kolo’e (
seperti binatang ). Petuah Bugis berkata: Siri’mi Narituo (karena malu
kita hidup ).
Siri’
adalah rasa malu yang terurai dalam dimensi-dimensi harkat dan martabat
manusia, rasa dendam (dalam hal-hal yang berkaitan dengan kerangka pemulihan
harga diri yang dipermalukan ). Jadi Siri’ adalah sesuatu yang tabu bagi
masyarakat Bugis-Makassar dalam interaksi dengan orang lain.
Sedangkan pacce/pesse
merupakan konsep yang membuat suku ini mampu menjaga solidaritas kelompok dan
mampu bertahan di perantauan serta disegani. Paccemerupakan sifat belas kasih
dan perasaan menanggung beban dan penderitaan orang lain, meskipun berlainan
suku dan ras. Jadi, kalau pepatah Indonesia mengatakan “ Ringan sama dijinjing,
berat sama dipikul ”. Itulah salah satu aplikasi dari kata pacce, jadi Siri’
skopnya dalam skala intern, sedang pacce bersifat intern dan ekstern, sehingga
berlaku untuk semua orang.
B.
Asal Mula Budaya Siri Na Pacce
Menurut Iwata
(Peneliti dari Jepang), pada mulanya, siri’ na pacce merupakan sesuatu
yang berkaitan kawin lari. Yakni jika sepasang pria dan wanita kawin
lari, maka mereka telah dianggap melakukan perbuatan siri’ dan membawa aib bagi
keluarga. Keluarga perempuan selanjutnya disebut tumasiri’, yaitu orang-orang
yang berhak menuntut sang pria secara hukum adat karena keluarganya dibawa
kabur (kawin lari). Selama belum kembali melakukan perdamaian, maka
selama itu pula sang pria tidak diperkenankan bertemu keluarga pihak perempuan
sebagai pasangan kawin larinya. Perdamaian hanya bisa dilakukan secara adat
dengan kembali membawa sang perempuan ke rumahnya yang selanjutnya disebut a’bajik.
Jika ini belum dilakukan, maka status tumasiri’ tetap melekat bagi keluarga
perempuan. Namun jika a’bajik sudah dilaksanakan, maka pasangan kawin lari tadi
secara hukum adat sudah terlindungi. Siapa saja yang mengganggunya akan dicap
sebagai pelanggar adat dan dikenakan hukum adat.
Dari aspek
ontologi (wujud) siri’ na pacce mempunyai relevansi kuat dengan pandangan islam
dalam kerangka spiritualitas, dimana kekuatan jiwa dapat teraktulkan melalui
penaklukan jiwa atas tubuh. sedemikian rupa, siri’ na pacce merupakan emanasi
dari islam yang berbusana bugis-makassar yang lahir dari rahim akulturasi islam
dan bugis-makassar.
Inti budaya
siri’ na pacce itu bukan cuma berkaitan pernikahan. Tapi, mencakup seluruh
aspek kehidupan orang Bugis-Makassar. Karena, siri’ na pacce itu merupakan jati
diri bagi orang Bugis-Makassar,” Dengan adanya falsafah dan ideologi Siri’ na
pacce , maka keterikatan dan kesetiakawanan di antara mereka mejadi kuat, baik
sesama suku maupun dengan suku yang lain. Konsep Siri’ na Pacce bukan hanya di
kenal oleh kedua suku ini, tetapi juga suku-suku lain yang menghuni daratan
Sulawesi, seperti Mandar dan Tator. Hanya saja kosa katanya yang berbeda, tapi
ideologi dan falsafahnya memiliki kesamaan dalam berinteraksi.
C.
Jenis-jenis Siri’
Zainal
Abidin Farid(1983) membagi siri, dalam dua jenis:
Pertama adalah
Siri’ Nipakasiri’, yang terjadi bilamana seseorang dihina atau diperlakukan di
luar batas kemanusiaan. Maka ia (atau keluarganya bila ia sendiri tidak mampu)
harusmate siri(mati harkat dan
martabatnya sebagai manusia).
Untuk orang
bugis makassar, tidak ada tujuan atau alasan hidup yang lebih tinggi daripada
menjaga Siri’nya, dan kalau mereka tersinggung atau dipermalukan (Nipakasiri’)
mereka lebih senang mati dengan perkelahian untuk memulihkan Siri’nya dari pada
hidup tanpa Siri’. Mereka terkenal dimana-mana di Indonesia dengan mudah suka
berkelahi kalau merasa dipermalukan yaitu kalau diperlakukan tidak sesuai
dengan derajatnya. Meninggal karena Siri’ disebut Mate nigollai, mate
nisantangngi artinya mati diberi gula dan santan atau mati secara manis dan
gurih atau mati untuk sesuatu yang berguna.
Sebaliknya,
hanya memarahi dengan kata-kata seorang lain, bukan karena Siri’ melainkan dengan
alasan lain dianggap hina. Begitu pula lebih-lebih dianggap hina melakukan
kekerasan terhadap orang lain hanya dengan alasan politik atau ekonomi, atau
dengan kata lain semua alasan perkelahian selain daripada Siri’ dianggap
semacam kotoran jiwa yang dapat menghilangkan kesaktian. Tetapi kita harus
mengerti bahwa Siri’ itu tidak bersifat menentang saja tetapi juga merupakan
perasaan halus dan suci. Seseorang yang tidak mendengarkan orangtuanya kurang
Siri’nya. Seorang yang suka mencuri, atau yang tiodak beragama, atau tidak tahu
sopan santun semua kurang Siri’nya”.
Yang kedua
adalah : Siri’ Masiri’, yaitu pandangan hidup yang bermaksud untuk
mempertahankan, meningkatkan atau mencapai suatu prestasi yang dilakukan dengan
sekuat tenaga dan segala jerih payah demi Siri’ itu sendiri, demi Siri’
keluarga dan kelompok. Ada ungkapan bugis “Narekko sompe’ko, aja’ muancaji
ana’guru, ancaji Punggawako” (Kalau kamu pergi merantau janganlah menjadi
anak buah, tapi berjuanglah untuk menjadi pemimpin). Nenek moyang almarhum Tun
Abdul Razak, Mantan Perdana Menteri Malaysia bernama Karaeng Haji, salah
seorang putera Sultan Abdul Jalil Somba Gowa XIX yang di merantau ke Pahang dan
dikenal dengan Toh Tuan, meninggalkan Gowa pada abad XVIII karena masalah
Siri’, perebutan kekuasaan raja Gowa antar saudara.
D.
Nilai-nilai Siri’ na Pacce
Nilai
filosofis siri’ na pacce merepresentasikan pandangan hidup orang Bugis
– Makassar mengenai berbagai persoalan kehidupan meliputi (1) prototipe watak
orang Makassar yang terdiri atas (a) reaktif (b) militan, (c) optimis, (d)
konsisten (e) loyal, (f) pemberani, dan (g) konstruktif.
Nilai
etis siri’ na pacce terdapat nilai-nilai etis meliputi (1) teguh
pendirian, (2) setia, (3) tahu diri, (4) berkata jujur (5) bijak, (6) merendah,
(7) ungkapan sopan untuk sang gadis, (8) cinta kepada Ibu, dan (9) empati.
Nilai
estetis siri na pacce meliputi (1) nilai estetis siri’ na pacce alam
non insani terdiri atas (a) benda alam tak bernyawa, (b) benda alam nabati, (c)
alam hewani (2) nilai estetis siri’ na pacce alam insani.
E.
Etos Siri’ na Pacce
Di dalam
sebuah syair sinrilik ada sebuah semboyan kuno masyarakat
Bugis-Makassar yang berbunyi “Takunjunga’ bangung turu’, nakugunciri’
gulingku, kualleangnga tallanga natoalia”. Syair tersebut berarti
“layarku telah ku kembangkan, kemudiku telah ku pasang, ku pilih tenggelam
daripada melangkah surut”. Semboyan tersebut menggambarkan betapa masyarakat
Bugis-Makassar memiliki tekad dan keberanian yang begitu tinggi dalam
menghadapi kehidupan. Masyarakat Bugis-Makassar dikenal sebagai orang-orang
yang suka merantau atau mendatangi daerah lain dan sukses di daerah tersebut.
Apa yang
membuat orang Bugis-Makassar dikenal sebagai pribadi yang pemberani dan
tangguh? Atau apa yang membuat orang Bugis-Makassar dikenal sebagai orang yang
sukses di daerah sendiri dan daerah yang didatanganginya? Jawabanya adalah
etos siri’ na pace. Para pemimpin yang berasal dari tanah
Bugis-Makassar menerapkan etos ini sebagai gaya kepemimpinan mereka.
Siapa yang
tidak kenal dengan Sultan Hasanuddin. Beliau adalah raja Gowa XVI. Beliau
dikenal sebagai seorang yang gagah berani melawan penjajah Belanda. Walaupun
pada akhirnya beliau harus menyerah melalui Perjanjian Bungaya yang sangat
merugikan Kerajaan Gowa saat itu.
Adapula putra
Bugis-Makassar yang bernama Syech Yusuf. Walaupun putra asli Bugis-Makassar,
beliau lebih dikenal sebagai penyebar agama Islam di beberapa negara seperti
Sri Lanka dan Afrika Selatan. Di Afrika Selatan, Ia dianggap sebagai sesepuh
penyebaran Islam di negara benua Afrika itu. Tiap tahun, tanggal kematiannya
diperingati secara meriah di Afrika Selatan. Bahkan menjadi semacam acara
kenegaraan. Bahkan, Nelson Mandela yang saat itu masih menjabat presiden Afsel,
menjulukinya sebagai “salah seorang putra Afrika terbaik”.
Di era modern
dikenal Bacharuddin Jusuf Habibie. Beliau adalah presiden Republik Indonesia
ke-3. Beliau merupakan satu-satunya presiden yang berasal dari luar pulau Jawa.
Selain dikenal sebagai presiden RI ke-3, beliau juga dikenal sebagai ilmuwan
yang sangat jenius. Beliau dikenal sebagai ilmuwan dibidang konstruksi pesawat
terbang dan teorinya masih digunakan hingga saat ini.
Ada juga
Muhammad Jusuf Kalla. Beliau adalah adalah wakil presiden Republik Indonesia
ke-10. Beliau juga dikenal sebagai tokoh perdamaian konflik di Poso dan Aceh.
Dengan gaya kepemimpinan khas orang Bugis-Makassar, beliau sukses dalam karir
politik serta usaha. Beliau adalah pemilik perusahaan besar Hadji Kalla Group.
F.
Siri’ na Pacce dan Bushido
Ajaran moral
Siri’ punya suku Bugis dan Makassar mirip dengan semangat Bushido kaum Samurai
Jepang. Bushido adalah etika moral bagi kaum samurai. Berasal dari zaman
Kamakura (1185-1333), terus berkembang mencapai zaman Edo (1603-1867), bushido
menekankan kesetiaan, keadilan, rasa malu, tata-krama, kemurnian,
kesederhanaan, semangat berperang, kehormatan, dll. Aspek spiritual sangat
dominan dalam falsafah bushido. Meski memang menekankan “kemenangan terhadap
pihak lawan”, hal itu tidaklah berarti menang dengan kekuatan fisik. Dalam
semangat bushido, seorang samurai diharapkan menjalani pelatihan spiritual guna
menaklukkan dirinya sendiri, karena dengan menaklukkan diri sendirilah orang
baru dapat menaklukkan orang lain.
Kekuatan
timbul dari kemenangan dalam disiplin diri. Justru kekuatan yang diperoleh dengan
cara inilah yang dapat menaklukkan sekaligus mengundang rasa hormat pihak-pihak
lain, sebagai kemantapan spiritual.Perilaku yang halus dianggap merupakan aspek
penting dalam mengungkapkan kekuatan spiritual.
Ada banyak
persamaan antara semangat ksatria Eropa masa lalu dengan semangat bushido,
karena sama-sama mementingkan keberanian, rasa malu, kehormatan, dll.
Perbedaannya terletak pada kesetiaan. Hubungan antara seorang satria Eropa
dengan bawahan adalah berdasarkan perjanjian sedangkan dalam bushido adalah
semata-mata berkat kesetiaan.
Orang-orang di
luar Jepang kerap mengasosiasikan semangat bushido dengan praktek seppuku yang
tidak pernah dilakukan lagi di zaman modern ini. Seppuku adalah ritual bunuh
diri dengan merobek perut sendiri dengan sebilah pedang sebagai bukti rasa
tanggung jawab. Mengapa perut? Di masa-masa feodal dulu di Jepang, para
pendekar perang menganggap perut sebagai tempat bermukimnya jiwa. Jadi pada
waktu mereka harus membuktikan rasa tanggung jawab sebagai pendekar atas perbuatannya,
mereka lebih memilih melakukan seppuku. Di jaman Edo, seppuku bahkan merupakan
bentuk hukuman mati bagi anggota kelas samurai. Yang bersangkutan melakukan
sendiri seppuku, untuk itu disediakan seseorang guna membantu menuntaskan
kematian tersebut agar penderitaan tidak berlarut-larut. Dewasa ini seppuku
sama sekali tidak dipraktekkan lagi. Kasus terakhir tercatat pada tahun 1970
ketika seorang sastrawan besar Mishima Yukio melakukan bunuh diri dengan cara
ini, dan hal itu sangat mengejutkan seluruh negeri Jepang. Di luar Jepang,
praktek seppuku lebih dikenal dengan hara-kiri (merobek perut).
Kedua ajaran
moral tersebut mulai ditinggalkan namun dengan tingkat emosi berbeda. Jepang
dengan harakirinya memiliki fislosofi rasa malu harus berakhir dengan kematian
di tangan sendiri. Ini berbeda dengan Siri’ dari bugis-makassar yang berarti
tidak selamanya harus mati, tapi masalah itu harus tuntas setunta tuntasnya,
tidak ada kata pasrah, justru merekapun menganggap mati berarti pasrah dan tak
mampu lagi mengatasi masalah. Dan tentunya karena latar belakang Religius maka
hal tersebut tidak diperbolehkan.
Falsafah
keberanian orang bugis-makassar itu bijak, seperti pelaut yang berkata “kualleangngangi
tallangan na toalia” artinya, aku memilih tenggelam daripada kapal kembali
surut ke pantai. Jangan langsung ditafsirkan aku memilih mati daripada mundur.
Bukan. Bukan seperti itu. Ketika seorang pelaut mengucapkan itu sebelum
berlayar, dia berangkat dengan niat dan tujuan yang jelas, benar dan terang.
G.
Penerapan Etos Siri’
na Pacce Saat Ini
Penetrasi
besar-besaran budaya global melalui jalur globalisasi telah membawa banyak
perubahan di seluruh penjuru dunia. Ditambah lagi dengan besarnya pengaruh
kekuatan ekonomi (economic power) negara-negara maju. Hal ini
menempatkan negara berkembang termasuk Indonesia pada posisi yang serba sulit
untuk menghindarinya. Satu-satunya jalan adalah mengantisipasinya. Indonesia
harus bisa meminimalisir efek negatif yang ditimbulkan dari globalisasi.
Untuk
mewujudkan hal tersebut, dibutuhkan sosok-sosok muda yang memiliki jiwa dan
karakter yang mapan. Anak muda Indonesia yang notabene adalah pemimpin dan
pemilik masa depan bangsa ini seharusnya memiliki siri’ na pacce dalam
diri mereka. Karena, anak muda Indonesia yang sudah dijelaskan di awal, adalah
anak muda yang sudah terlalu jauh dari akar budaya mereka. Mereka sudah terlalu
dalam terkontaminasi oleh pengaruh negatif globalisasi. Dengan adanya siri’
na pacce, anak muda akan lebih peka merasakan segala macam persoalan
yang sedang melanda Indonesia. Mereka juga akan malu melihat keadaan negaranya
serta malu jika ia hanya berdiam diri dan tidak berbuat apa-apa untuk
bangsanya.
Pemimpin yang
memiliki siri’ na pacce dalam dirinya, akan memiliki
keberanian serta ketegasan, namun tetap bijaksana dalam memimpin. Pemimpin yang
memegang teguh prinsip ini akan membawa perubahan ke arah yang lebih baik
karena mereka memiliki rasa peka terhadap lingkungan sekitar. Mereka dapat
mendengarkan aspirasi orang-orang yang mereka pimpin. Hal ini sangat sejalan
dengan konsep negara kita yaitu negara demokrasi.
Meskipun
etos siri’ na pacce berasal dari masyarakat Bugis-Makassar,
namun etos ini sangat bisa diterima secara nasional. Karena di berbagai daerah
Indonesia juga terdapat etos atau pandangan hidup yang hampir sama dengan
konsep siri’ na pacce. Ada wirang yang
hidup di masyarakat suku Jawa, carok pada masyarakat suku
Madura, pantangpada masyarakat suku di Sumatera Barat,
serta jenga pada masyarakat suku di pulau Bali. Kesemua
pandangan hidup dari berbagai daerah tersebut memiliki kesamaan konsep
dengan siri’ na pacce, yaitu malu jika keadaan suku atau
bangsa mereka tidak lebih baik dari suku atau bangsa lain. Kesemua konsep
pandangan hidup tersebut menanamkan nilai-nilai luhur tentang semangat serta keberanian
tanpa melupakan rasa lembut hati sebagai penyeimbangnya
2. Nilai
Dan Norma Suku Bugis Makassar
Setiap orang tentunya
harus harus memiliki pandangan hidup, suku bugis makaassar sudah sangat dikenal
sebagai pekerja keras mereka senang sekali untu merantau jauh dinegeri seberang
untuk mengubah haluan hidup demi mencapai keuksesan sejati. Falsafah Hidup
merupakan sebuah prinsip yang mendasar yang harus dimiliki insane dan individu
tanpa prinsip maka kehiduppan orang tersebut laksana kapal yang terombang
ambing ombak ditengah lautan tanpa tujuan yang jelas. Orang bugis makasssar
memiliki juga beberapa prinsip kehidupan yang sangat dalam dalam memaknai
perjalanan hidup dan berikut ini beberapa prinsip-prinsip tersebut:
A. Siri
na Pacce
Siri na pacce prinsip ini mengajarkan bahwa orang bugis
Makassar sangat menjunjung tinggi persoalan siri atau rasa malu mereka akan
senantiasa merasa malu untuk melakukan perbuatan yang tidak baik. Dan baginya
panyang untuk melakuka perbuatan yang memalukan yang bertentangan dengan norma
agama, hukum maupun norma adat dan kesopanan Dan sebuah aib yang cukup
memalukan bila dikemudian hari melakukan hal-hal yang dianggap sebagai
perbuatan tidak terpuji . Harga diri atau integritas merupakan barang/mata uang
yang palig berharga bagi orang bugis makassar kehilangan harga diri laksana
khilangan segala-galanya dan lebih baik kehiolangan uang dari pada harga diri
karena kehilangan uang kita kehilangaan sedikit akan tetapi kalau kehilangan
integritas maka kita kehilangan segala-galanya Pacce merupakan sebuah sikapyang
dapat merasakan penderitaan sesama manusia dan tentunya sikap ini akan
senantiasa memunculkan solidaritas bagai sesama manusia Berpegang teguh pada
prinsip kehidupan yang mampu perasakan pederitaan sesama manusia maka hal itu
akan memicu keinginan untuk senantiasa mengulurkan pertolongan bagi mereka yang
membutuhkannya
B. RESO
Tamanginggi Naletei Pammase Puang
RESO Tamanginggi Naletei Pammase Puang artinya bahwa
didadalam mengarungi kehidupan ini Orang bugis akan senantiasa bekerja secara
keras, tekun dan pantang menyerah maka dapat dipastikan kebrhasilan akan bisa
dicapai karena Rahmat Tuhan meniti menuju jalan kesuksesa. Dan didalam bekerja
tersebbut pantang berputus asa karena semakin kita berkeja keras dan semakin
banyak rintangan yang kita hadapi seperti kegagalan maka dapat dipastikan kita
akan semakin dekat dengan kesuksesan karena hampir semua orang sukses diunia
ini pasti perna merasakan kegagalan .jika Fisik dibesarkan dengan melatihnya
mengangkat beban seperti barbell maka jiwa dibentuk berdasarkan kegagalan yang
dihadapi. Hanya dengan kerja keras maka segalah usaha pasti bisa dicapai dan
tuhan sangat menyenangi orang yang bekerja secara keras.
C. Tea
Tamakua idipanajaji
Tea Tamakua idipanajaji yang artinya kesuksesan anda
tergantung dari diri anda sendiri apa yang anda pilih pada waktu yang lalu
hasilnya apa yang aanda rasakan pada saat ini. Dan jika anda ingin merubah
nasib anda maka tidak ada jalan lain hanya anda yang mampu mengubahnya karena
itu hargai diri anda ,kenali diri anda dan potensi anda lejitkan dan jangan
perna berfokus pada kekurangna anda karen ajika berfokus kepada kekurangan maka
annda hanya mampu berkeluh kesah, tapi Fokuslah pada kelebihan anda maka anda
akan bisa melakukan apapun yang anda cita-citakan . Tidak akan berubah nasib
seseorang kecuali dia yang merubanya sendiri demikanlah peringatan tuhan.
D. Sipakainga,
Sipakatau ,dan sipakalebbi
Sipakainga, Sipakatau ,dan sipakalebbi.Sikap ini mengajarkan
kepada kita bagaimana cara menggapai kesuksesan dan berhubungan dengan sesama
manusia karena kesuksesan tidak akan bisa kita capai tanpa bantuandan
berinteraksi dengan orang-orang disekeliling kita karena dalam menjalin
hubungan dengan manusia termasuk dengan relasi bisnis dan rekan kerja hendaknya
kita senantiasa saling mengingatkan , saling menghormati, dan saling menghargai
jikaa ketiga sikap ini anda terapkan maka dipastikan urusan anda akan berjalan
mulus.
Sipakainga adalah tindakan untuk senantiasa saling
mengingatkan ,saling menegur ,saling mengevaluasi dan membimbing jealan yang
benar jika seseorang mengalami permasalahan atau kesulitan hidup pada saat
tanpa membedakan yang baik dan yang benar Sipakatau merupakan cerminanan untuk
senatiasa saling menghormati dan tidak sebaliknya saling bermusuhan ,selink
sikuk dan injak menginjak dalam merebut jabatan atau mengejar kekayaan
hendaknya senantiasa kita memanusiakan sesama manusia.
Sipakalabbi sebuah gambaran dalam menjalani hidup dalam
bermasyarakat untu senantiasa saling menghargai antara sesama manusia dengan
saling menghargai maka hubungan akan semakin erat dan jauh dari rasa permusuhan
dan kebencian.
E. Malilu
Sipakainge
Malilu Sipakainge, Mali Siparappe,RebbaSipatokkongartinya
bahwa hendaknyaa kita membantu satu sama lain jangan saling menjatuhkan tapi
sebaliknya saling menarik serta saling mengingatkan antara sesama manusia karna
jalan menuju kesuksesan pasti penuh hambatan Dan ketika engkau terjatuh maka
saling bantulah dan memotivasi untuk bangkit kembali karena kegagalan akan
selalu ada dalam setiap jalan kesuskesan Jika anda ingin sukses maka jangan
perna takut akan kegalalan dan jangan pernah menghitung berapa kali anda gagal
dan terjatu tapi hitung dang ingatlah sudah berapa kali anda bangkit dari
kegagalan.
F. Taro
Ada Taro Gau
Taro Ada Taro Gau prinsip ini mengajarkan betapa pentingnya
memiliki sikap yang bissa dipercaya taro ada taro gau memiliki makna bahwa
sebagai pemimin atau apapun profesi anda senantiasalah untuk selalu konsisten
antara ucapan dan perbuatan. Ketika ucapan dan perbuatan anda sejalan maka
dapat dipastikan orang-orang yang anda pimpin atau berada disekitar anda akan
semakin mempercayai anda ,dengan adanya kepercayaan maka anda sudah sukses
menapaki tangga kepemimpinan yaitu dipercaya atau menjadi pemimpin yang
dipercaya. Ketika seorang pemimpin sudah dipercaya maka yang dipimpinnya
otomatis akan mencintainya ketika anda sudah dicintai rakyat atau orang yang
anda pimpin maka pegaruh anda akan semakin kuat dengan kuatnya pengarug maka
anda menciptkan diri anda menjadi pemimpin yang kharismatik.
3. Sistem
Kepercayaan Kebudayaan Suku Bugis Makassar
Orang Bugis-Makassar lebih banyak tinggal di Kabupaten Maros
dan Pangkajene Propinsi Sulawesi Selatan. Mereka merupakan penganut agama Islam yang taat. Agama Islam masuk ke
daerah ini sejak abad ke-17. Mereka dengan cepat menerima ajaran Tauhid. Proses
islamisasi di daerah ini dipercepat dengan adanya kontak terus-menerus dengan
pedagang-pedagang melayu Islam yang sudah menetap di Makassar. Pada zaman
pra-Islam, religi orang Bugis-Makassar, seperti tampak dalam Sure’ Galigo,
mengandung suatu kepercayaan kepada satu dewa tunggal yang disebut dengan
beberapa nama, yaitu:
1.
Patoto-e, yaitu Dia yang menentukan nasib.
2.
Dewata Seuwa-e, yaitu Dewa yang tunggal.
3.
Turie a’rana, yaitu Kehendak yang tertinggi.
Sisa-sisa kepercayaan ini masih terlihat pada orang To
Lotang di Kabupaten Sindenreng-Rappang, dan pada orang Amma Towa di Kajang,
Kabupaten Bulukumba. Orang Bugis-Makassar masih menjadikan adat mereka sebagai
sesuatu yang keramat dan sakral. Sistem adat yang keramat itu didasarkan pada
lima unsur pokok sebagai berikut:
1.
Ade’ (ada’ dalam bahasa Makassar) adalah bagian dari panngaderrang yang terdiri
atas:
a.
Ade’ Akkalabinengneng, yaitu norma mengenai perkawinan, kaidah-kaidah
keturunan, aturan-aturan mengenai hak dan kewajiban warga rumah tangga, etika
dalam hal berumah tangga, dan sopan-santun pergaulan antar kaum kerabat.
b.
Ade’ tana, yaitu norma mengenai pemerintahan, yang terwujud dalam bentuk hukum
negara, hukum antarnegara, dan etika serta pembinaan insan politik.
Pembinaan dan pengawasan ade’ dalam masyarakat
Bugis-Makassar dilakukan oleh beberapa pejabat adat, seperti pakka-tenni ade’,
pampawa ade’, dan parewa ade.’
2.
Bicara, berarti bagian dari pangaderreng, yaitu mengenai semua kegiatan dan
konsep-konsep yang bersangkut paut dengan hukum adat, acara di muka pengadilan,
dan mengajukan gugatan.
3.
Rampang, berarti perumpamaan, kias, atau analogi. Sebagai bagian dari
panngaderreng, rampang menjaga kepastian dan kesinambungan suatu keputusan
hakim tak tertulis masa lampau sampai sekarang dan membuat analogi hukum kasus
yang dihadapi dengan keputusan di masa lampau. Rampang juga berupa perumpamaan-perumpamaan
tingkah-laku ideal dalam berbagai bidang kehidupan, baik kekerabatan, politik,
maupun pemerintahan.
4.
Wari, adalah bagian dari panngaderreng yang berfungsi mengklasifikasikan
berbagai benda dan peristiwa dalam kehidupan manusia. Misalnya, dalam
memelihara garis keturunan dan hubungan kekerabatan antarraja.
5.
Sara, adalah bagian dari pangaderreng, yang mengandung pranata
hukum, dalam hal ini ialah hukum Islam.
Kelima unsur keramat di atas terjalin menjadi satu dan
mewarnai alam pikiran orang Bugis-Makassar. Unsur tersebut menghadirkan rasa
sentimen kewargaan masyarakat, identitas sosial, martabat, dan harga diri, yang
tertuang dalam konsep siri. Siri ialah rasa malu dan rasa kehormatan seseorang.
4. Sistem Kekerabatan Kebudayaan Suku Bugis
Makassar
Perkawinan ideal menurut adat Bugis
Makassar adalah:
1.
Assialang marola, yaitu perkawinan antara saudara sepupu sederajat kesatu, baik
dari pihak ayah maupun dari pihak ibu.
2.
Assialana memang, yaitu perkawinan antara saudara sepupu sederajat kedua, baik
dari pihak ayah maupun dari pihak ibu.
3.
Ripanddeppe’ mabelae, yaitu perkawinan antara saudara sepupu sederajat ketiga,
baik dari pihak ayah maupun dari pihak ibu.
Perkawinan tersebut, walaupun ideal,
tidak diwajibkan sehingga banyak pemuda yang menikah dengan gadis-gadis yang
bukan sepupunya.
Perkawinan yang dilarang atau
sumbang (salimara’) adalah perkawinan antara:
1.
Anak dengan ibu atau ayah.
2.
Saudara sekandung.
3.
Menantu dan mertua.
4.
Paman atau bibi dengan kemenakannya.
5.
Kakek atau nenek dengan cucu.
Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan
sebelum perkawinan adalah:
1.
Mappuce-puce, yaitu kunjungan dari keluarga si laki-laki kepada keluarga si
gadis untuk mengadakan peminangan.
2.
Massuro, yaitu kunjungan dari utusan pihak keluarga laki-laki kepada keluarga
si gadis untuk membicarakan waktu pernikahan, jenis sunreng (mas kawin), dan
sebagainya.
3.
Maduppa, yaitu pemberitahuan kepada seluruh kaum kerabat mengenai perkawinan
yang akan datang.
BAB III
PENUTUP
1.
KESIMPULAN
Suku Bugis Makassar merupakan sebuah suku yang kaya akan
kebudayaan abstrak maupun kebudayaan konkrit. Sistem kekerabatan dalam kebudayaan Bugis-Makassar masih cukup kental, lapisan
masyarakat Bugis dan Makassar terdiri dari 3 yaitu anak arung atau lapisan kaum
kerabat raja-raja, tom aradeka atau lapisan orang merdeka, dan atau lapisan
orang budak.
Bahasa yang diucapkan oleh sukuBugis disebut bahas ugi
sementara suku Makassar disebut mangkasara. Adapun huruf yang dipakai dalam naskah Bugis maupun Makassar yakni,
aksara lontara. Diantara buku terpenting dalam kesusasteraan suku
Bugis-Makassar adalah buku sure galigo, suatu himpunan besar dari
mitologi yang bagi kebanyakan orang mempunyai nilai yang keramat.
Potensi paling besar bagi masyarakat Bugis-Makassar adalah
dalam sektor pelayaran rakyatdan perikanan, karena usaha-usaha ini sudah
merupakan usaha-usaha yang telah dijalankan sejak beberapa abad lamanya oleh
orang Bugis-Makassar, sehingga dapat dikatakan telah mendarah daging dalam alam
jiwa mereka.
2.
SARAN
Dari
makalah yang kami buat di atas adalah, semoga setiap warga negara indonesia
mengetahui apa saja kebudayaan indonesia, karena menurut saya sangat sulit
untuk melindungi kebudayaan kita jika hanya kita sendiri, maka dari itu , saya
harap kalian semua para pembaca dapat membantu untuk selalu melindungi harta
karun terbaik yang pernah kita punya di negara indonesia tercinta kita ini.
Jangan sampai harta karun kita di ambil oleh orang lain yang tidak
bertanggungjawab, betapa indahnya saat cucu-cucu kita kelak tetap dapat
menikmati kebudayaan yang ada di indonesia yang masih asri dan asli terjaga hingga
masa depan kelak.
Jika ada
salah-salah ketik dalam penulisan di atas mohon untuk dimaklumi, karena manusia
tidak ada yang sempurna.
bantu bagikan
BalasHapusbantu bagikan
BalasHapus